Diduga Langgar Kode Etik Profesi dan KUHAPidana, Oknum Kapolresta Manado Dipropamkan

Diduga Langgar Kode Etik Profesi dan KUHAPidana, Oknum Kapolresta Manado Dipropamkan

Diduga Langgar Kode Etik Profesi dan KUHAPidana, Oknum Kapolresta Manado Dipropamkan
Bidik 86, Jakarta
Oknum Kapolresta Manado, berinisial KBP EL, akhirnya dilaporkan ke Divpropam Polri, Rabu, 4 Agustus 2021. Berkas laporan pengaduan terhadap Oknum Kapolresta Manado itu, dilayangkan oleh Ketum PPWI, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA. Menurut Tokoh Pers Nasional itu, Oknum Kapolresta Manado bersama jajarannya, diduga kuat melakukan pembangkangan terhadap peraturan perundangan dan Perkap No. 8 tahun 2009.
“Dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Oknum Kapolresta Manado itu, terkait dengan kasus kriminalisasi Anggota PPWI, Nina Muhammad, yang dijadikan tersangka kasus UU ITE atas laporan Rolandy Thalib, Oknum Markus yang bekerja di Bank Sulutgo. Sangat mungkin, para Oknum Polisi itu menjadi bagian dari mafia kasus yang dimotori oleh Rolandy Thalib. Jadi, kita laporkan Oknum Kapolresta Manado itu, ke Divpropam Polri hari ini,” ungkap alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu, kepada ratusan media di tanah air, Rabu, 4 Agustus 2021.
Terlebih parah lagi, tambah Lalengke, jika kita merujuk kepada Perkap No. 10 tahun 2011 tentang KEPP NRI.
“Banyak sekali Pasal dalam KEPP yang dilanggar Oknum-oknum itu, terkait perkara kriminalisasi Ibu Nina Muhammad. Coba lihat, antara lain Pasal 10, Pasal 11, Pasal 13 ayat (1) huruf (e) dan ayat (2), Pasal 14 dan Pasal 15. Itu semua adalah ketentuan yang mengatur perilaku Anggota Polri dalam menjalankan tugasnya. Oknum Kapolresta Manado itu terindikasi kuat, telah membangkang terhadap Perkap tentang KEPP ini,” beber lulusan program studi Global Ethics dari Birmingham University, England, ini.
Adapun modus yang dijalankan oleh Oknum Kapolresta Manado dan Tim Penyidik dalam mengkriminalisasi Anggotanya, jelas Lalengke, adalah dengan menerima LP yang dibuat Rolandy Thalib, sebagai pelapor sekaligus sebagai korban. Padahal, BB yang disertakan dalam LP-nya itu, berupa screen shot tayangan di Medsos Fb, tidak sedikitpun terkait dengan si terduga Markus, Rolandy.
Anehnya, saat penetapan Nina Muhammad sebagai tersangka atas LP yang dibuat oleh Rolandy Thalib, Oknum Kapolresta Manado enggan memberikan turunan BAP kepada tersangka Nina Muhammad. Hal inilah yang kemudian dinilai, bahwa Oknum Kapolresta Manado, KBP EL, telah melakukan pelanggaran hukum (KUHPidana) dan Perkap No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM, dalam Penyelenggaraan Tugas Polri.
Secara rinci, kronolgi dan isi laporan pengaduan Ketum PPWI, Wilson Lalengke, ke Divpropam Mabes Polri adalah sebagai berikut.
_Pada tanggal 15 April 2021 melalui Kuasa Hukum-nya, Nina Muhammad, mengajukan permohonan untuk mendapatkan Turunan BAP atas nama Nina Muhammad (Anggota PPWI Manado) ke Kapolresta Manado, Kombespol Elvianus Laoli, SIK, MH. Namun, hingga pengaduan ini disampaikan ke Divpropam Mabes Polri, 4 Agustus 2021, turunan BAP yang menetapkan Nina Muhammad sebagai tersangka tindak pidana ITE, belum diberikan kepada yang bersangkutan._
_Kami (baca: PPWI) menduga, penolakan Oknum Kapolresta Manado memberikan turunan BAP tersebut, diduga kuat disebabkan oleh isi BAP yang penuh dengan rekayasa, untuk mengkriminalisasi Nina Muhammad. Turunan BAP itu sangat penting bagi Nina Muhammad, yang ditetapkan sebagai tersangka kasus ITE, untuk melakukan review dan kajian penting dalam rangka melakukan pembelaan atas penetapan dirinya sebagai tersangka._
_Untuk diketahui, Nina Muhammad yang juga adalah Anggota Bhayangkari di lingkungan Polda Sulut, ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik di Polresta Manado dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya 10 hari sejak laporan atas dirinya diporses. LP terkait dugaan pencemaran nama baik melalui jaringan media elektronik, dilakukan oleh Rolandy Thalib, yang dalam dokumen LP di SPKT Bareskrim Mabes Polri, Rolandy Thalib ini, mengaku sebagai pelapor dan korban. Faktanya, berkas screen shot Medsos Fb yang dilampirkan sebagai BB LP-nya, sama sekali tidak terkait dengan Roalandy Thalib. Pelapor sebagai ‘korban palsu’ ini, sudah dilaporkan juga ke Dittpidum Bareskrim Mabes Polri, sesuai arahan dari Polwan AKP. Rosdiana, yang piket di Unit Dittipidum, pada hari Rabu, 28 Juli 2021._
_Dalam Pasal 72 KUHAPidana, dinyatakan bahwa, “Atas permintaan Penasihat Hukum-nya, Pejabat yang bersangkutan memberikan turunan BAP untuk kepentingan pembelaannya.” Juga, merujuk kepada Pasal 17 UU Advokat, jelas menyatakan bahwa, “Dalam menjalankan profesinya, Advokat berhak memperoleh informasi, data dan dokumen lainnya, baik dari Instansi Pemerintah maupun pihak lain, yang berkaitan dengan kepentingan tersebut, yang diperlukan untuk pembelaan kepentingan kliennya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”_
_Lagi, Perkap No. 8 tahun 2009, tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Pori, Pasal 9 ayat (1) dan (2) menjelaskan, bahwa “(1) Dalam menerapkan tugas pelayanan dan perlindungan terhadap warga masyarakat, setiap Anggota Polri wajib memperhatikan asas legalitas, yakni (2) segala tindakan Petugas/Anggota Polri, harus sesuai dengan prosedur dan hukum yang berlaku, baik di dalam perundang-undangan nasional ataupun internasional.”_
_Berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundangan dan Perkap tersebut di atas, sangat jelas bahwa Oknum Kapolresta Manado, Elvianus Laoli dan jajarannya, telah melakukan pelanggaran, baik pelanggaran terhadap Kode Etik Polri maupun pelanggaran hukum (pidana)._
_Untuk itu, kami (PPWI–red) mendesak Divpropam Mabes Polri, segera menyelidiki kasus pelanggaran disiplin, etika profesi Polri dan dugaan tindak pidana, yang dilakukan oleh Oknum Kapolresta Manado dan jajaran Penyidik, yang menangani kasus kriminalisasi Nina Muhammad tersebut. Jika terbukti bersalah, kami (PPWI) mengharapkan, agar Pimpinan Polri memberikan sanksi tegas terhadap semua Oknum yang terlibat dalam kasus ini. Semoga motto PRESISI (Prediktif, Responsibilitas dan Transparansi berkeadilan), bukan hanya slogan pemanis bibir Kapolri belaka. Terima kasih._
Dalam laporannya ke Divpropam Polri, Lalengke menyertakan data 2 orang saksi atas kasus tersebut, yakni Nina Muhammad (saksi korban kriminalisasi) dan Andreas Benaya Rehiary, SH (Ketum AWJ) yang selama ini turut mendampingi Nina Muhammad selama memperjuangkan hak-haknya, mendapatkan keadilan hukum dalam perkara yang dihadapinya.
“Kita akan kawal terus kasus Oknum Kapolresta Manado ini, termasuk semua pihak yang terkait dengan program kriminalisasi warga atas nama Nina Muhammad,” tegas Wilson Lalengke, yang juga menjabat Presiden Persisma itu, menghakhiri penjelasannya. (Red)