Ketum PPWI Ingatkan Jurnalis Agar Utamakan Keselamatan dan Miliki Filter Pemberitaan

Ketum PPWI Ingatkan Jurnalis Agar Utamakan Keselamatan dan Miliki Filter Pemberitaan

Bidik 86, Jakarta
Menyikapi perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, terutama terkait dengan kinerja jurnalistik di lapangan. Hal tersebut menggugah Tokoh Pers Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA, angkat bicara, Jum’at (25/6/21), di Sekretariat Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN-PPWI) di bilangan Slipi-29, Jakarta Barat (Jakbar).
Wilson Lalengke, yang juga merupakan Ketua Umum (Ketum) PPWI, menyoroti tentang penembakan atau tewasnya salah satu rekan Wartawan yang bernama Mara Salem Harahap, atau yang akrab disapa ‘Marshal’. Dan penyataan kontroversial dari Bupati Bogor, yang mengatakan ‘Wartawan Bodrex dan Wartawan abal-abal’ dan lain sebagainya.
Alumni PPRA-48 Lemhanas RI tahun 2012 tersebut, mengingatkan kepada keluarga besar PPWI, agar mengutamakan keselamatan kerja.
“Keselamatan diri adalah yang utama dibandingkan dengan pemberitaan atau informasi yang akan kita kejar. Nomorsatukan keselamatan, daripada resiko-resiko yang akan dihadapi saat bertugas melakukan peliputan,” ujar Wilson, yang merupakan mantan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Program pada Pusat Kajian Hukum Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (Setjen DPD-RI).
Selanjutnya, hasil liputan yang diberitakan kepada publik, harus bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan data, fakta, informasi, narasumber dan lain sebagainya, harus tersedia selengkap mungkin.
“Ini akan membuat kita lebih _safety_ ketika membuat pemberitaan kepada publik,” jelas Alumni Magister Global Ethics University Birmingham Belanda.
Lanjutnya, sebaiknya kita melakukan tugas-tugas jurnalistik secara bersama-sama.
“Karena PPWI adalah gerakan silaturahmi, ketika kita saling memberi dukungan dalam pemberitaan, maka kita perlu bergotong-royong,” papar Presiden Persaudaraan Indonesia Sahara Maroko (Persisma).
Karena Jurnalisme Warga adalah Jurnalisme gotong-royong, sehingga sebuah berita perlu kita viralkan dengan dimuat di beberapa media-media yang ada dalam PPWI media group, agar punya kekuatan yang lebih baik dan tinggi, dibandingkan kita beritakan sendiri-sendiri.
Jika suatu saat ada komplain atau serangan dari pihak yang dirugikan, kita bisa menghadapinya bersama-sama.
“Jadi, orang tidak akan mudah menuding salah satu pihak atau Si A, Si B, apalagi membawa ke ranah pidana. Jika kita bersama-sama, tentu akan menyulitkan pihak yang mengkomplain,” tuturnya.
Hal yang tak kalah penting, Jurnalisme berpengaruh pada peradaban bangsa dan membangun masyarakat yang cerdas, sesuai visi dan misi PPWI.
“Visi PPWI adalah mewujudkan masyarakat yang cerdas dalam menerima informasi, cerdas merespon dan cerdas menyampaikan informasi,” ujar Wilson.
Oleh karena itu, dalam upaya mewujudkan visi tersebut, yang harus selalu harus diingat adalah pemberitaan memiliki 3 filter, yaitu:
1. Apakah informasi yang diberitakan adalah berita yang benar?
2. Apakah berita itu baik adanya?
3. Apakah berita itu bermanfa’at?
“Jika pemberitaan yang akan kita sebar telah memenuhi ketiga filter diatas, maka pemberitaan lulus untuk disebarkan. Ketiga filter tersebut harus menjadi pijakan atau pegangan dalam mempublikasikan sebuah berita,” kata Wilson.
Ia pun berpesan, sebagai Anggota PPWI, harus pandai dalam memilah sebuah informasi yang akan disebarkan. Sebagai contoh, seperti yang saat ini sedang terjadi pandemi Covid-19 di seluruh dunia.
“Jika informasi yang akan kita sebarkan menurunkan moralitas dan menurunkan semangat dalam situasi pandemi, maka tidak perlu disebarkan. Namun, jika pemberitaannya akan membangkitkan semangat dalam melawan pandemi, maka perlu disebarluaskan bersama-sama,” tutup Wilson. (Red)