Tanggapi Berita ‘Lontong dan Telur Asin’, Warga: Mungkin Ini Sebuah Bodoran

Tanggapi Berita ‘Lontong dan Telur Asin’, Warga: Mungkin Ini Sebuah Bodoran

Bidik 86, Purwakarta
Warga masyarakat Ds. Karangmukti, Kec. Bungursari, Kab. Purwakarta, Jabar, yang telah mendengar dan membaca sebuah artikel berita terkait ‘lontong dan telur asin‘, langsung tertawa bahkan ada yang hingga terbahak-bahak.
Berita tersebut sangat jelas sarat muatan politik, apalagi menjelang Pilkades serentak yang telah diundur jadwalnya. Dari yang tadinya bulan Agustus, sekarang dimajukan pada bulan Oktober 2021, akibat pandemi yang belum kunjung usai.
Salah seorang tokoh masyarakat Ds. Karangmukti dari wilayah RW. 04 yang enggan disebut identitasnya menyebut, jika hasil karya tulis seorang Wartawan seperti demikian, terkesan sebuah guyonan bahkan mungkin bodoran.
“Bagaimana tidak, semua yang mendengar dan membaca berita itu, pasti ada yang tersenyum tipis bahkan bergelak tawa. Bayangkan, ‘telur asin dan lontong‘ itu dibagikan kepada warga yang hadir di acara tahlilan. Jadi, kenapa harus berlebihan?” ucap dia.
Seperti pada umumnya, jika ada warga yang meninggal dunia khususnya di Ds. Karangmukti, dari mulai tetangga terdekat hingga sanak family yang dari jauh pun banyak berdatangan untuk sekedar berbela sungkawa.
“Tahlilan adalah adat kami dalam berkirim do’a kepada almarhum atau pun almarhumah, bahkan ada yang sampai tujuh hari. Nah, usai tahlilan, sebagai rasa terima kasih, keluarga duka memberikan jamuan kepada para tamu, jamuan alakadarnya. Yaa itu dia salah satunya, ‘lontong dengan telur asin‘. Itu kan bagi kami adalah makanan enak,” terus sang tokoh, menjelaskan kepada Pewarta Bidik 86.
Menurutnya, istilah iming-imingi ‘telur asin dan lontong‘ untuk tanda tangan penolakan galian tanah merah, sangatlah tidak relevan.
“Untuk masalah galian tanah merah, jika pun ada, kami tidak diimingi apapun. Kami pasti akan membawa permasalahn ini kepada pihak terkait. Kami yakin, jika ada galian C yang berada di Wilkum Kab. Purwakarta, sudah dipastikan tidak akan diijinkan. Koq ini malah maju terus, bahkan diduga menabrak aturan yang ada,” paparnya kritis.
Saat ini adalah musim kemarau, disinyalir efek dari rutinitas galian tanah, mengancam masyarakat sekitar seperti ISPA atau gangguan pernafasan lainnya.
“Debu akibat dari tanah merah yang berceceran di sekitar lingkungan warga, sangatlah merugikan, makanya kami menolak keras adanya galian tanah merah tersebut. Namun masalah ‘telur asin dan lontong‘ sebagaimana yang diberitakan oleh salah satu media, 100℅ itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan eksustensi galian tanah merah,” tegas dia.
Dirinya menerangkan, akan berkirim surat kepada Bupati Purwakarta  selaku pemegang kebijakan. (Hen)