Webinar Jurnalis Warga Sukses, Ilham Bintang: Pewarta Warga Lebih Tinggi dari Wartawan

Webinar Jurnalis Warga Sukses, Ilham Bintang: Pewarta Warga Lebih Tinggi dari Wartawan

Bidik 86, Jakarta
Webinar Jurnalisme Warga dengan tema ‘Eksistensi Pewarta Warga dalam Perspektif UU Pers‘ sukses digelar pada Senin, 16 Agustus 2021. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang memenuhi ruang Webinar. Tidak kurang dari 500-an pendaftar dari Sabang sampai Merauke, mengikuti Webinar tersebut dengan tekun dan seksama, dari awal hingga akhir acara [1].
“Acaranya sangat menarik dan pemaparan para narasumber amat mencerahkan. Saya berharap, PPWI menyelenggarakan lagi Webinar serupa, untuk membahas lebih detail persoalan Pers dan aktivitas Pewarta Warga di dalam masyarakat, termasuk persoalan hukum dan tantangan yang sering mereka hadapi,” komentar seorang peserta, Haris, ke Panitia, usai acara, Selasa, 17 Agustus 2021.
Acara yang digagas dan dilaksanakan oleh PPWI Nasional ini, merupakan salah satu kegiatan PPWI dalam rangka menyambut HUT ke-76 Kemerdekaan RI. Selain kegiatan Webinar, PPWI juga melaksanakan Lomba Menulis dengan tema ‘Merdeka dari Pandemi Covid-19‘ yang berlangsung dari tanggal 15 s/d 22 Agustus 2021. Juga, pada tanggal 28 Agustus 2021 mendatang, PPWI menyelenggarakan ‘Diklat Jurnalistik Dasar‘ yang bertujuan membekali peserta tentang dunia jurnalistik, sehingga mampu menjadi Jurnalis dan Pewarta Warga yang handal.
Pada acara Webinar Jurnalisme Warga yang berlangsung dari pukul 19.10 WIB hingga 22.40 WIB, Panitia menghadirkan empat pembicara kompeten di bidangnya. Keempat pembicara tersebut adalah, Ketum PPWI, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA; Ketua Komite 1 DPD-RI, Fachrul Razi, SIP, MIP; Wartawan kawakan yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI, Ilham Bintang, SE dan Komisioner Komisi Kejari, Dr. R. M. Ibnu Mazjah, SH, MH.
Dalam pemaparannya, Wilson Lalengke menyampaikan, bahwa menurut Committee of Concerned Journalist–CCJ, tujuan jurnalistik adalah menyediakan informasi yang cukup kepada pembaca (publik), agar mampu membentuk paradigma (cara/pola fikir dalam mengambil keputusan) bagi diri mereka sendiri [2]. Dalam konteks ini, jurnalisme hakekatnya adalah alat yang selalu digunakan untuk melakukan rekayasa sosial (social engineering).
“Untuk menciptakan sebuah kekacauan di dalam suatu komunitas atau bangsa, jurnalisme selalu digunakan dan tidak pernah gagal. Demikian sebaliknya, jika kita menginginkan keadaan yang damai, harmoni, nyaman dan tenteram di dalam masyarakat, maka gunakanlah jurnalisme untuk mewujudkan keadaan itu,” terang alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu, dalam presentasenya.
Lalengke kemudian menekankan, bahwa setiap warga memiliki tanggung jawab dalam membangun peradaban bangsa, minimal di komunitasnya masing-masing. Oleh karena itu, setiap warga perlu melibatkan diri dalam melakukan fungsi-fungsi jurnalistik dalam kehidupannya sehari-hari, agar terbentuk peradaban dan kemajuan bangsa sesuai harapannya, bukan mengekor pada kehendak segelintir pemilik media besar saja.
Sementara itu, Fachrul Razi, menyoroti keberadaan Pewarta Warga dalam konteks perundang-undangan yang ada saat ini. Menurutnya, UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers, sudah cukup memadai untuk mendukung kerja-kerja jurnalistik di tanah air. Termasuk, katanya, juga sudah mengakomodir warga masyarakat umum untuk melakukan kerja-kerja Pers.
Pasal 17 UU Pers sangat jelas, mengakomodir setiap orang untuk melakukan kerja-kerja Pers dan tanpa persyaratan macam-macam [3]. Demikian disebutkan Senator asal Aceh ini.
Namun begitu, secara faktual di lapangan, masih banyak dijumpai persoalan yang menimpa Wartawan dan Pewarta Warga, seperti diskriminasi, kriminalisasi, pengancaman, bahkan pembunuhan. Hal ini, kata Fachrul, antara lain disebabkan oleh cara pandang lembaga Dewan Pers (DP) yang masih berpedoman kepada peraturan perundangan tahun 1966.
“Sangat kita sayangkan, para pengurus DP masih berpedoman kepada peraturan perundangan yang terbit tahun 1966. Jadi, pola fikir mereka masih di zaman Orba. Padahal jelas, arahan UU No. 40 tahun 1999 itu, dalam Pasal 15, dibentuk DP yang independent dalam rangka mengembangkan kemerdekaan Pers dan meningkatkan kehidupan Pers [4]. Jadi, DP tidak boleh menjadi sub-ordinat dari lembaga manapun, termasuk harus bebas dari pengaruh Pemerintah dan kalangan bisnis,” tegas Fachrul, yang menyempatkan diri menyampaikan ‘tausiahnya’ di sela-sela rapat paripurna DPD-RI malam itu.
Sejalan dengan Fachrul, Ilham Bintang menegaskan, bahwa eksistensi Jurnalis Warga, memang tidak diatur secara detail dalam UU No. 40 tentang Pers, namun keberadaan dan kegiatan Pewarta Warga tidak ilegal. Keberadaan Pewarta Warga jelas disebutkan dalam pasal 17 UU Pers tentang peran serta masyarakat dalam dunia Pers.
“Bahkan menurut saya, Pewarta Warga itu lebih tinggi statusnya di atas Wartawan, karena menurut UU ini, masyarakat bisa mengawasi, memantau dan menganalisis kerja-kerja Wartawan, termasuk pelanggaran hukumnya, serta bisa menyampaikan usulan kepada DP. Wartawan justru tidak diberikan hak tersebut,” ungkap Tokoh Wartawan Nasional yang puluhan tahun hidupnya diabdikan di dunia Pers ini.
Ilham Bintang juga menjelaskan tentang kedudukan media online dan Medsos yang menurut pendapatnya adalah media yang sah digunakan sebagai media Pers. Hal itu dikaitkannya dengan Pasal 1 ayat (1) UU Pers.
“Penggunaan perangkat internet seperti media online sebagai media Pers adalah sah, tidak ilegal dan tidak memerlukan syarat macam-macam, itu sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 ayat (1) UU Pers, menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia [5]. Media online dan Medsos itulah yang dimaksud media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia ini,” jelas Bang IB, demikian ia selalu akrab disapa.
Satu hal yang menarik untuk dibahas lebih lanjut, adalah perbedaan pandangan antara kedua pakar dan praktisi jurnalistik, Fachrul Razi dan Ilham Bintang, ini yakni terkait perlunya revisi UU Pers. Fachrul mengusulkan, agar dilakukan pembenahan perundangan di bidang Pers, mengikuti perkembangan zaman di bidang Pers, sementara Bang IB justru menolak gagasan tersebut, karena menurutnya, UU Pers ini sudah sangat bagus dan relevan untuk jangka panjang ke masa depan.
“Saya malahan kuatir, jika UU Pers ini dimajukan untuk direvisi atau amandemen, justru akan berpotensi besar untuk mengebiri kemerdekaan Pers dan kita kembali seperti di masa Orba. Jadi, saya fikir ini harus dicegah. Kalau terkait Oknum Pengurus DP yang bermasalah, maka seharusnya lembaga itu saja yang kita benahi, tapi jangan UU Pers-nya yang kita utak-atik,” jelas IB berharap.
Narasumber keempat, Dr. Ibnu Mazjah, memaparkan tentang kebebasan Pers yang dikaitkan dengan aturan internasional tentang HAM, yaitu Article 19 Universal Human Right Declaration (UHRD) [6]. Pasal 19 Piagam HAM PBB ini, telah diakomodir dalam Pasal 28 UUD hasil amandemen [7].
“Secara khusus, Pasal 28E menjamin HAM terkait kebebasan berpendapat dan menyampaikan pendapatnya di muka umum. Ini merupakan implementasi dari Article 19 UHRD,” ujar Dr. Ibnu Mazjah, yang juga adalah Dosen Program Magister Ilmu Hukum Universitas Mathla’ul Anwar, Banten, sejak 2018 ini.
Event nasional ini didukung oleh beberapa sponsor, antara lain: Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PPHRI), Swiss-Belresidences, Vision Villa, Fame Sunset Road Kuta Bali dan Teras Kita Hotel.
Bravo Pewarta Warga! Warga Cerdas Pasti Pewarta Warga…!!! (Red)
Catatan:
 
[1] Video Webinar Jurnalisme Warga: Pewarta Warga dalam Perspektif UU Pers; https://youtu.be/ouxzepXS5SY
 
[2] Committee of Concerned Journalists: The principles of journalism; https://journalistsresource.org/home/principles-of-journalism
 
[3] Pasal 17 ayat (1) dan (2) UU No. 40 tahun 1999 berbunyi: (1) Masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan Pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: a. memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh Pers; b. menyampaikan usulan dan saran kepada DP dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas Pers nasional
 
[4] Pasal 15 ayat (1) UU No. 40 tahun 1999 menyatakan: Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan Pers dan meningkatkan kehidupan Pers nasional, dibentuk DP yang independen
 
[5] Isi Pasal 1 ayat (1) UU No. 40 tahun 1999: Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya, dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia
 
[6] Article 19 UHRD: Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers
 
[7] Pasal 28E UUD 1945 menyatakan: Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia